• PT Berdikari (Persero) Jl.Medan Merdeka Barat No.1 Jakarta Pusat.
  • Email: info@berdikari-persero.com
  • Telp.: (021) 3459955

Berita

Eko Taufik Wibowo, CEO PT Berdikari (Persero): Kami Melihat Celah di Bisnis Unggas

Sebelum saya masuk PT Berdikari (Persero), saya terlibat dalam membuat peta kebijakan pangan dan komoditas. Setelah  itu, saya mendapat amanah memimpin Berdikari tahun 2016. Saat itu, fokusnya adalah pengembangan peternakan dan  menjaga pasokan peternakan di hulu. Masalah pangan harus diselesaikan di hulunya, bukan di hilir. Kalau solusi di hilir adalah impor, itu akan menguras devisa. Ini berulang kali dilakukan dan tidak menyelesaikan masalah. Setiap tahun akan berulang lagi. Makanya, saya mencoba mengembangkan Berdikari masuk dalam industri peternakan di hulu.

Kemudian, saya menyusun rencana Berdikari berbisnis peternakan ayam dari hulu sampai hilir. Kami ingin masuk mulai dari bisnis bibit ayam, penggemukan, pabrik pakan, rumah potong, industri pengolahan, sampai produk olahan siap saji, seperti bakso, nugget, dan sosis. Bahkan, saya mendesain nanti kami bisa memiliki gerai tempat penjualan, termasuk armada food truck.

Meski semuanya belum tuntas, tapi saya sudah sekarang ada pada jalur. Tahap pertama adalah membuka bisnis induk, yakni dari indukan ayam atau grand parent stock (GPS). Kami mulai dari impor 18.000 ekor, sekarang populasinya lebih dari 100.000 ekor. GPS kemudian menghasilkan indukan ayam atau parent stock (PS). Ayam PS ini berkembang pesat dan setiap panen sold out. Kami memiliki kandang hasil kerjasama dengan peternak di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Setelah itu, kami merambah ke hilir, yaitu ke penggemukan ayam final stock (FS) broiler. Jika panen, ayam ini juga bisa masuk pasar atau masuk ke industri pengolahan. Ini sedang kami lakukan dan kami sedang menambah kandang.

Selanjutnya, yang sedang kami susun adalah bisnis olahan ayam, seperti sosis, nugget, bakso, dan lainnya. Kami targetkan bisnis ini bisa dilakukan tahun ini. Kami juga berencana memperkuat bisnis inti dengan rencana akuisisi pabrik pakan.

Langkah membangun kembali Berdikari tak mudah. Saat saya masuk tahun 2016, perusahaan dalam kondisi morat-marit. Tugas pertama saya saat masuk adalah memikirkan bagaimana perusahaan ini tidak berdarah-darah terus. Saya sempat mikir, apakah saya bisa menghidupkan perusahaan ini?

Memetakan masalah

Equity perusahaan minus, utang sampai Rp 600 miliar. Sementara pendapatan hanya mengandalkan setoran anak usaha. Karena sudah berkomitmen, saya memetakan masalah terlebih dahulu. Hasilnya, ada empat masalah yang saya temukan di Berdikari saat itu.

Pertama adalah masalah finansial akibat beban utang. Masalah ini saya selesaikan dengan cara mengajukan penjualan aset ke Menteri Keuangan. Saat itu, kami mendapatkan Rp100 miliar yang membuat kami bisa bernafas, karena beban utang perusahaan bisa mencapai Rp 600 miliar.

Kedua, adanya masalah sumber daya manusia yang tidak punya kapasitas sesuai harapan. Saya melakukan assessment dan hasilnya saya mengurangi dari 160 karyawan menjadi 60 orang.

Namun, saya menghadapi masalah lain, yaitu budaya kerja. Sementara, saya terbiasa disiplin di perbankan. Solusi yang saya susun adalah membuat briefing setiap Senin pagi. Itu membuat karyawan datang pagi-pagi.

Bagi saya, masalah disiplin ini adalah hal utama, karena berkaitan dengan integritas. Setelah disiplin membaik, kapasitas karyawan mulai teratasi. Saat briefing, karyawan terbiasa melakukan evaluasi dan melakukan perencanaan.

Ketiga adanya masalah hukum karena kelalaian pengelolaan perusahaan pada periode sebelumnya. Terkait masalah hukum ini, saya melakukan negosiasi. Saya sampaikan, jika masalah hukum muncul karena utang atau kewajiban yang tak terpenuhi, saya tegaskan komitmen untuk menyelesaikannya. Namun jika ada masalah hukum karena pelanggaran, saya minta untuk diselesaikan secara prosedur hukum.

Keempat, adanya masalah dalam bisnis. Saat saya masuk, tak ada pendapatan kecuali dari anak perusahaan. Sebelumnya kita berbisnis sapi, tapi saya tunda dulu di awal karena kami harus bangun reputasi dulu. Berdikari jatuh saat berbisnis sapi. Maka itulah, saya memilih bisnis ayam dulu, mulai dari induk ayam atau GPS.

Piawai mencari celah

Kami berbisnis GPS karena pemainnya swasta semua. Hanya kami BUMN yang berbisnis hulu ini. Padahal peluangnya besar dan hanya dinikmati perusahaan swasta. Setelah tiga tahun berjalan, kami membuktikan diri sebagai perusahaan pemasok induk ayam atau PS terbesar ketiga di Indonesia

Dalam melakoni bisnis PS ini, kami berhadapan dengan perusahaan swasta yang menggurita. Mereka menguasai hulu sampai hilir. Tapi kami masih melihat ada celah di bisnis unggas ini. Apalagi kita tahu, bisnis protein hewani ini punya peluang tumbuh besar. Apalagi konsumsi kita masih rendah.

Dalam kompetisi ini, kami mampu bersaing. Dari sisi harga kami bisa menawarkan harga lebih murah, sehingga peternak mulai mendekati kami. Tapi belakangan, kompetitor kami sudah menyadari posisi kami yang menjadi penyeimbang pasar. Kami ingin, harga ayam tidak dikendalikan perusahaan swasta.

Kami tahu, pemerintah kesulitan mengakses stok ayam, baik itu ayam GPS, GP, maupun ayam FS. Semenjak ada kami, setidaknya pemerintah mengetahui data dari kami. Kami terbuka karena diaudit. Dari data itu, pemerintah bisa membuat kebijakan impor atau membatasi impor GPS. Berdikari membentuk keseimbangan baru di bisnis ayam.

Kami juga diminta pemerintah impor sapi untuk perusahaan penggemukan. Kami lakukan kemitraan pengembangan sapi lokal dengan peternak di Lebak dan Bojonegoro. Jumlah sapinya sudah 100 ekor dengan pola bisnis bagi hasil. Saya berharap nanti bisa 1.000 ekor per kabupaten agar populasi sapi kita meningkat dan kita dapat swasembada sapi.


Sumber :

Tabloid Kontan Edisi 15 Juli 2019

https://www.kontan.co.id/